70-534 test material 70-534 practice exam 300-070 key point 300-070 exam dumps

Tentang Monggo – Chocolate Monggo

The Spirit of Monggo

Care (Peduli)

Kepedulian kami terhadap lingkungan sama besarnya dengan kepedulian kami terhadap cokelat. Kemasan yang kami gunakan dibuat dari kertas yang ramah lingkungan. Selain itu, kami juga menggunakan bahan-bahan alami yang diperoleh dari komoditas lokal untuk turut mendukung perekonomian seperti yang sudah kami terapkan di kedai kami dalam penggunaan kemasan produk.

Educate (Edukasi)

Kami yakin bahwa kami mampu mengedukasi banyak orang untuk menghargai tradisi dan mengapresiasi kualitas dari cita rasa cokelat dengan memulai belajar mengkonsumsi produk berkualitas. Museum kami merupakan lokasi yang tepat untuk mempelajari dan memahami lebih dalam tentang cokelat!

Share (Berbagi)

Kami ingin berbagi dengan semua orang di Indonesia. Hal ini selalu menjadi misi spiritual kami dan cinta kami terhadap cokelat berkualitas tinggi.

Unique (Unik)

Tradisi cokelat dari Belgia yang dikombinasikan dengan kultur budaya Jawa menciptakan cita rasa unik ketika dikombinasikan dengan bahan-bahan lokal. Hal ini yang mendorong kami untuk membuat cokelat premium asli dari Indonesia. Perpaduan berbagai aspek budaya dimana masing-masing dapat memberikan manfaat tersendiri sehingga terciptalah produk Monggo yang unik dan istimewa.

Genuine (Orisinil)

Misi kami tidak semata-mata hanya untuk mengembangkan bisnis. Melalui Monggo kami ingin mengangkat cita rasa cokelat asli hasil kekayaan alam Indonesia yang dapat dinikmati semua orang. Semua didasari oleh kecintaan kami terhadap cokelat dan kebudayaan Jawa.

Video

Ahli Cokelat Pertama di Yogyakarta

Perjalanan ini dimulai di Yogyakarta pada tahun 2001 ketika seorang pria berusia 35 tahun dari Belgia menginjakkan kaki di Indonesia tanpa rencana. Merasa kecewa dengan kualitas yang kurang baik dari cokelat yang Ia temukan di Indonesia, Ia memutuskan untuk mengambil tindakan dengan membuat beberapa spesialisasi cokelat dari negara asalnya dengan menggunakan sumber daya terbatas.

Truffle, cokelat pertama yang Ia berikan kepada rekan-rekannya untuk memberikan secercah kebahagiaan yang akan terpancar dari mata mereka. “Anda harus membuat lebih banyak lagi!” kata teman-temannya. Akhirnya, dengan menggunakan Vespa merah muda yang dimodifikasi menjadi sebuah kios, Thierry menjual cokelatnya pada hari Minggu di pasar Universitas Gajah Mada dan di area luar Gereja Kotabaru.

Melihat kebahagiaan dan reaksi dari banyak orang saat mencicipi cokelat memberikan momen-momen menarik yang menjadi titik dimulainya awal karir baru dan membuatnya menjadi ahli cokelat pertama di Yogyakarta.

Thierry Detournay - Founder and Director

Arti “Monggo”

“Monggo” merupakan sebuah kata dari bahasa Jawa yang berarti “silahkan.” Orang-orang di Yogyakarta sering menggunakan kata tersebut sembari menunjukkan jempolnya, serupa dengan tanda yang digunakan oleh hitchhiker namun dalam posisi horizontal.

“Monggo” digunakan ketika seseorang lewat di depan Anda, ketika diundang ke rumah seseorang, ketika Anda beranjak pergi, dan lain-lain. Kami mendapati bahwa kata tersebut merupakan ekspresi sopan yang mewakili budaya Jawa di kota Yogyakarta dengan baik dan menjadi nama yang sempurna untuk produk cokelat kami.

Monggo Saat Ini
Sejak awal berdiri di tahun 2005, Chocolate Monggo semakin berkembang bersama dengan 190 karyawan yang bekerja di kantor utama kami di Yogyakarta, Jakarta, Surabaya, dan Bali.
Proses produksi kami berlokasi di Yogyakarta. Pabrik utama kami berada di Kotagede dan pabrik baru kami berada di Bangunjiwo; yang dapat dikunjungi sebagai tempat tur wisata Museum Cokelat.
Kami mendistribusikan produk kami ke banyak kota di area Pulau Jawa, Sumatera, dan Bali. Kami berusaha untuk dapat mengembangkan distribusi kami ke pulau lainnya di Indonesia dan segera ke luar negeri.