Shop
0
Rp0 0 item

Tidak ada produk di keranjang.

Shop
0
Rp0 0 item

Tidak ada produk di keranjang.

Tentang Monggo

Arti "Monggo"

“Monggo” merupakan sebuah kata dari bahasa Jawa yang berarti “silahkan.” Orang-orang di Yogyakarta sering menggunakan kata tersebut sembari menunjukkan jempolnya, serupa dengan tanda yang digunakan oleh hitchhiker namun dalam posisi horizontal.

“Monggo” digunakan ketika seseorang lewat di depan Anda, ketika diundang ke rumah seseorang, ketika Anda beranjak pergi, dan lain-lain. Kami mendapati bahwa kata tersebut merupakan ekspresi sopan yang mewakili budaya Jawa di kota Yogyakarta dengan baik dan menjadi nama yang sempurna untuk produk cokelat kami.

Sejarah Monggo

2001 – 2004  |  Awal Mula
2005  |  Kelahiran Monggo
2006 -2007  |  Gempa Bumi
2007 – 2009  |  Pindah ke Kotagede
2010 – 2014  |  Meraih Kesuksesan
2015  |  Tahun Penuh Tantangan
2017  |  Ekspansi ke Bangunjiwo
2020 – 2021  |  Pandemi
2022  |  Bangkit Kembali 

2001 – 2004  |  Awal Mula

Awalnya cokelat truffle dan cokelat yang sederhana serta harganya terjangkau yang merupakan hasil produksi rumahan dipajang diatas vespa pink dan dibagikan di pasar "SunMor" UGM. Kemudian membangun bisnis dari nol. Toko "Kulit Cokelat" dan Produk "Cacaomania", keduanya gagal sebelum membuat konsep yang lebih matang. Dan selama tahun-tahun itu, tentu saja belajar terus menerus tentang cokelat, serta mencari persediaan dan peralatan yang terjangkau

2005  |  Kelahiran Monggo

Chocolate Monggo berdiri sejak 2005 dengan gagasan membuat produk oleh-oleh dari kota Yogyakarta. Kami ingin produk Monggo menjadi cokelat berkualitas premium dari Indonesia dan menyasar para wisatawan, selain itu juga memperkenalkan cokelat hitam yang sehat untuk masyarakat setempat. Kemasannya dibuat dari kertas daur ulang untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan dan dengan beberapa ikon jawa untuk mencetak identitas lokal kami pada setiap produk. Chocolate Monggo merupakan pelopor Artisan cokelat di Yogyakarta. Jumlah karyawan kemudian meningkat dari 1 menjadi 7 orang.

2006 -2007  |  Gempa Bumi

Area produksi pertama adalah sebuah rumah kecil seluas 50 m² di daerah selatan Yogya (sebagian hancur pada tahun 2006 karena gempa bumi).
Gempa bumi 27 Mei 2006 merupakan peristiwa besar bagi kita dan seluruh masyarakat Jogja, lebih dari 6ooo korban jiwa. Di Monggo kami semua kehilangan rumah. Daerah Selatan Yogyakarta hanya tinggal puing-puing. Mengumpulkan uang dari teman-teman di luar negeri untuk membantu para pekerja kami dan keluarga mereka adalah fokus utama Thierry pascagempa.
Kami telah kehilangan rumah kami, tetapi kami masih hidup dan penuh energi untuk melanjutkan petualangan mengembangkan cokelat.
akhir tahun 2006 produksi kami meningkat pesat dari 1 kg/hari menjadi 10kg/hari

2007 – 2009 | Pindah ke Kotagede

Kami telah mulai mendistribusikan produk cokelat kami ke beberapa toko lokal dengan mobil van VW tua dan pada tahun 2007 kami mendirikan produksi kecil kami di kawasan Heritage Kotagede. Sebuah rumah tua yang cukup untuk mengembangkan produksi kami.
Kami dengan cepat menjadi daya tarik bagi wisatawan lokal dan untuk Saluran TV nasional sangat tertarik untuk meliput konsep kuliner baru dan unik.
Didorong oleh kesuksesan pertama ini, kami memutuskan untuk membuka toko pabrik kecil dan membuat lebih banyak produk untuk dijual langsung di Kotagede. Walaupun jauh di luar kawasan komersial utama Yogya tetapi semakin banyak orang mulai datang mengunjungi kami.
Lebih banyak pekerja juga bergabung dengan kami untuk memproduksi cokelat dalam jumlah yang semakin banyak.

2010 – 2014 | Meraih Kesuksesan

Selain toko dan pabrik kami di Kotagede, Monggo membuka toko baru di jl Tirtodipuran. Meraih kesuksesan, kami juga telah merambah ke kota-kota lain: Solo, Semarang, Jakarta, dll.
Jumlah karyawan mulai bertambah hingga 80 orang dengan kapasitas produksi sekitar 150kg/hari
Area pabrik kami di Kotagede bertambah hingga 200 m² dan sementara itu kami telah membangun fasilitas kantor kami di tanah sebelah.
Distribusi cokelat dilakukan dengan truk dan van di seluruh Pulau Jawa. Juga mulai menginjak Pulau Bali.

2015  |  Tahun Penuh Tantangan

Chocolate Monggo sedang booming dan kami membuka 2 toko baru di Bandara Adi Sucipto Yogyakarta.
Jumlah karyawan naik menjadi sekitar 160 orang dengan peningkatan produksi 250-300 kg/hari. Area produksi kami saat itu mendekati 350 m2 dari total permukaan.
Dengan mengembangkan distribusi kami ke Jakarta dan Bali, kami harus berinvestasi dalam truk yang lebih besar dan membantu setiap pengiriman lokal dengan beberapa kendaraan yang lebih kecil.
Variasi produk kami juga bertambah banyak: bar, tablet, praline, snack, kue, dll. Banyak rasa unik: Cabai, Rendang, Serai, Mangga, dan lebih banyak lagi Dark chocolate dengan persentase kakao yang lebih tinggi. Selera Indonesia mulai berubah untuk mengurangi gula, lebih banyak produk yang lebih sehat.
Seiring berkembangnya bisnis, semakin banyak tantangan yang datang. Tapi 2015 adalah tahun yang rumit bagi perusahaan (tidak ada komentar).

2017 | Ekspansi ke Bangunjiwo

Karena kami harus menciptakan ruang untuk berkembang, kami berinvestasi untuk tanah di Kabupaten Bangunjiwo Bantul. Sebuah rumah tua dengan gudang tua untuk produksi kerajinan tangan. Semuanya harus direnovasi. Pertama bangunan kayu Joglo tua menjadi toko cokelat dan rumah Jawa kuno disulap menjadi museum cokelat. Museum edukatif untuk mempelajari segala hal tentang cokelat. Sekolah-sekolah lokal mulai datang berkunjung. Kami menambahkan konsep “Kedai” kecil untuk menikmati minuman cokelat buatan sendiri dan juga beberapa kegiatan interaktif dengan cokelat. Fasilitas pabrik datang kemudian dengan ruangan pertama yang dibuat untuk pengolahan biji kakao kami.
Secara Total saat itu kami memiliki 6 toko (5 di Yogya dan 1 di Jakarta)
Pada tahun 2019 jumlah karyawan kami meningkat hingga 200 orang tetapi luas pabrik kami tetap hampir sama dengan 400 m2 kecil. Kotagede menjadi terlalu terbatas ruangnya, kami harus pindah ke fasilitas produksi yang lebih besar dan kami mulai membangun pabrik baru di Bangunjiwo. Sayangnya, kemudian datang pandemi Covid 19...

2020 – 2021 | Pandemi

Bagi sebagian besar dari kita, pandemi Covid 19 telah memukul kita dengan sangat keras. Penjualan cokelat turun drastis. Kami harus memotong semua biaya untuk tetap bertahan hidup. Tetapi kami juga harus menemukan solusi untuk beradaptasi dengan situasi itu dan tetap hidup. Dengan mengembangkan penjualan online, sedikit demi sedikit kita bisa mendapatkan sedikit pemasukan untuk membayar gaji para pekerja kita. Dengan upaya semua orang untuk mengurangi waktu kerja, kami dapat mempertahankan banyak pekerja kami.
Produksi kami turun menjadi kurang dari 80kg/hari.
Dengan lebih banyak waktu untuk berpikir kreatif, kami juga mulai membuat produk baru: Monggo gelato, biskuit, makanan ringan, dll.
Kami harus menutup sementara semua toko kami dan 3 toko tutup secara permanen (di Jakarta dan Bandara Yogyakarta). Museum Cokelat kami juga tutup sementara.
Kami juga mengembangkan Kedai kami di Bangunjiwo dengan lebih banyak tempat duduk di luar ruangan dan menu baru untuk menarik pelanggan local, tetapi tentu saja, protokol kesehatan berjalan ketat.
Petani kakao juga menderita dari situasi ini dan kami telah kehilangan beberapa yang gulung tikar atau pindah ke tanaman lain.

2022  |  Bangkit Kembali Dengan Pabrik Baru

Dengan kemudahan pembatasan perjalanan orang-orang mulai bergerak lagi dan turis kembali pada paruh pertama tahun 2022. Untuk siap menangkap “gelombang” peningkatan penjualan yang akan datang, kami telah membangun kembali toko kami di Jalan Tirtodipuran (kawasan wisata Yogyakarta) dan kami membuatnya menjadi konsep yang lebih lengkap yaitu "House of Chocolate and Gelato".
Fasilitas produksi baru kami akhirnya siap dan pada Juli 2022 kami dapat memindahkan seluruh produksi. 1500 m2 pabrik dengan standar yang lebih tinggi.
Hampir semua klien kami (supermarket, hotel, toko suvenir, dll.) juga kembali berbisnis dan mereka mulai memesan lagi dengan kebutuhan yang meningkat.
Mari kita lihat apa yang akan terjadi di tahun-tahun mendatang....
Bersambung…

Pesona Monggo

Peduli

Kami peduli secara umum dan ini tentu menjadi nilai utama kami di Monggo. Kami peduli dengan lingkungan seperti kami peduli dengan cokelat kami. Misalnya, sebagian besar kemasan kami terbuat dari kertas daur ulang dan kami selalu berusaha menghindari plastik. Selain itu kami juga fokus pada bahan-bahan alami, kami menggunakan sebagian besar pasokan bahan local yang berkualitas tinggi untuk mengurangi kebutuhan transportasi yang terkait dengan produksi. Selain itu, kami menggunakan panel surya untuk memanaskan air untuk pabrik. Kami juga peduli dengan komunitas lokal, lingkungan dan budaya mereka. Kami sudah beberapa kali menyelenggarakan pembersihan sungai atau desa dari sampah, penanaman pohon, membantu komunitas petani kakao, mempromosikan wayang kulit Jawa, menyelenggarakan pasar komunitas dengan barang yang lebih murah, dll. Tapi kualitas cokelat kami yang paling penting karena kami ingin Anda mengkonsumsi cokelat yang sehat dan anda puas untuk memakannya.

Unik

Tradisi cokelat Belgia berpadu dengan warisan budaya Jawa dan berbagai rasa serta bahan yang luar biasa yang dapat kita temukan secara lokal. Kami adalah pionir untuk membuat cokelat premium asli Indonesia. Ini adalah perpaduan dari aspek budaya yang berbeda, di mana masing-masing mendapat manfaat dari yang lain yang menciptakan sesuatu yang istimewa dan membuat Monggo begitu unik.

Mendidik

Kami percaya bahwa kami memiliki tanggung jawab untuk mendidik orang untuk menghargai tradisi mereka dan menghargai kualitas sejati dalam hal cokelat. Museum kami jelas merupakan tempat untuk mempelajari segala sesuatu tentang cokelat! Kami menawarkan inisiasi untuk anak-anak (dan juga orang dewasa) untuk membuat cokelat pertama mereka dan menjelajahi seluk beluk kakao dan cokelat.

Asli

Misi kami tidak semata-mata hanya untuk mengembangkan bisnis. Melalui Monggo kami ingin mengangkat cita rasa cokelat asli hasil kekayaan alam Indonesia yang dapat dinikmati semua orang. Semua didasari oleh kecintaan kami terhadap cokelat dan kebudayaan Jawa. Kami benar-benar berkomitmen pada kualitas cokelat kami dan tidak akan mengubah resep asli kami karena alasan penghematan biaya. Cokelat asli adalah gairah kami.

Berbagi

Kami ingin berbagi kenikmatan makan cokelat asli dengan semua orang di Indonesia. Hal ini selalu menjadi misi spiritual kami dan cinta kami terhadap cokelat berkualitas tinggi.

Kualitas Monggo

BIJI KAKAO BERKUALITAS TINGGI 
KEMASAN RAMAH LINGKUNGAN 
MEMBERDAYAKAN PETANI LOKAL 
OTENTIK & LEZAT 
SERTIFIKASI HALAL 

100% MENTEGA KAKAO
MENGGUNAKAN BAHAN ALAMI
AHLI COKELAT BELGIA
COKELAT SEHAT
STANDAR MUTU PRODUKSI TINGGI

Produksi Coklat Monggo

#1 Pohon Kakao
#2 Buah Kakao
#3 Biji Kakao
#4 Fermentasi
#5 Pengeringan
#6 Pengiriman Dan Pengecekan
#7 Pemilahan Biji
#8 Sangrai dan Pendinginan
#9 Pemecahan dan Pemisahan
#10 Giling Kasar
#11 Giling Halus
#12 Conching
#13 Aging
#14 Tempering
#15 Pencetakan
#16 Pendinginan dan Pelepasan Cetakan
#17 Kemasan Primer
#18 Kemasan Sekunder
Pohon Kakao – Theobroma Cacao
Proses membuat cokelat dimulai dengan biji kakao yang merupakan biji dari buah kakao yang dihasilakan oleh pohon kakao. Pohon ini merupakan tipikal pohon yang tumbuh di area tropis dengan curah hujan dan cuaca panas yang cukup. Ada tiga jenis utama pohon kakao yaitu Forastero, Criollo dan Trinitario. Di indonesia umumnya kita menemukan tiga jenis pohon tersebut.
Buah Kakao
Setelah dipanen buah kakao di buka untuk mendapatkan biji kakao basah yang dikandungnya biasanya satu buah kakao berisi 20 sampai 50 biji kakao yang masih dilapisi selaput putih
Biji Kakao
Setelah mendapatkan biji kakao yang masih basah dengan selaput putih, kemudian dimasukan ke dalam kota kayu dilapisi daun pisang untuk proses fermentasi
Fermentasi
Fermentasi adalah proses metabolisme penting untuk mengubah biji kakao mengembangkan rasa cokelat yang khas dan warna coklat yang pekat. Biasanya diperlukan waktu 5 hari untuk menyelesaikan proses ini tetapi mungkin bisa berbeda waktunya tergantung jenis biji kakaonya. Di perkebunan kecil petani akan membawa biji kakao segar mereka ke koperasi lokal dan menyerahkan pekerjaan fermentasi biji ke petani yang lebih ahli. Sayangnya, di Indonesia sebagian besar biji kakao masih ada yang belum difermentasi. Situasi ini sebagian besar disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tentang proses teknis atau kesalahan persepsi tentang fermentasi itu sendiri.
Pengeringan
Setelah bagian dalam biji kakao berwarna coklat berarti proses fermentasi sudah selesai kemudian biji kakao dapat dijemur dikeringkan dibawah sinar matahari sampai kandungan air didalam biji menurun menjai 6-7% setelah itu dimasukan dalam karung goni untuk menjaga sirkulasi udara tetap baik dan tidak terkontaminasi.
Pengiriman Dan Pengecekan
Kami menerima biji kakao yang sudah difermentasi dari para petani mitra kami. Sebelum diproses, tim quality control akan mengambil sampel untuk mengecek ukuran dan kualitas yang sesuai dengan standar kami.
Pemilahan Biji
Memilah biji kakao berdasarakan ukurannya yang akan mempengaruhi waktu dan suhu saat di sangrai supaya mendapatakan kematangan yang sesuai
Sangrai dan Pendinginan
Biji-biji kakao dipanaskan dalam mesin sangrai. Durasinya bervariasi, mulai dari yang cepat hingga lambat, tergantung jenis dan ukuran dari biji kakao.
Pemecahan dan Pemisahan
Mesin pemecah dan pemisah membantu untuk memisahkan cangkang yang tidak dapat dikonsumsi. Roda mekaniknya menggiling dan memecah biji menjadi lebih kecil. Di dalam mesin, pecahan kakao dan cangkangnya dipisah menggunakan kipas angin yang akan meniup cangkang dan mengumpulkan potongan kakao murni yang dikenal sebagai 'cocoa nibs.'
Giling Kasar
Mesin gilingan kasar menggiling 'cocoa nibs' menjadi adonan massa kasar, yang juga disebut kakao massa atau 'chocolate liquor,' salah satu bahan utama pembuatan cokelat.
Giling Halus
Kakao massa dengan mentega kakao dan gula dimasukkan ke dalam stone-grinder, dua roda granit akan mengaduk, menghaluskan, dan mencampur semua bahan menjadi satu. Hasil akhir dari proses ini sudah bisa disebut sebagai cokelat.
Conching
Mesin 'conche' digunakan untuk mengaduk adonan cokelat dengan gerakan konstan sementara udara panas tersirkulasi melalui proses pencampuran. Proses inilah yang akan menciptakan karakteristik rasa, aroma, dan sensasi mulut dari Chocolate Monggo. Proses ini memakan waktu setidaknya 12 jam hingga 72 jam untuk conching.
Aging
Cokelat perlu distabilkan selama beberapa minggu dalam kondisi penyimpanan yang baik. Untuk meningkatkan rasa dan aroma yang enak sementara rasa tidak enak yang tidak bertahan lama akan hilang perlahan dan kemudian cokelat kami siap untuk tahap akhir produksi.
Tempering
Tempering adalah langkah penting dalam pembuatan cokelat. Proses Ini memastikan bahwa mentega kakao didalam cokelat tercampur sehingga saat di cetak mempertahankan bentuk, warna dan tekstur. Cokelat yang disebut “tempered” akan meleleh pada suhu sekitar 34°C. Karena itu, saat dikonsumsi, cokelat akan meleleh lembut di mulut. Tempering yang baik juga akan menghasilkan cokelat yang mengkilat. Sayangnya, Indonesia memiliki iklim yang terlalu lembap untuk membuat cokelat mengkilat dalam waktu lama.
Pencetakan
Untuk membuat cokelat batangan, cokelat yang sudah melalui proses 'tempering' dituang ke dalam cetakan. Bentuk dan ukuran cokelat yang dicetak tergantung dengan cetakan yang dipilih, dari yang tablet hingga berbagai macam bentuk. Cokelat premium dengan kandungan lemak kakao 100% akan menghasilkan tampilan cokelat yang megkilap ketika keluar dari cetakan.
Pendinginan dan Pelepasan Cetakan
Setelah didinginkan, cokelat yang melewati proses tempering dengan sempurna dapat dikeluarkan dari cetakan dengan mudah.
Kemasan Primer
Di ruangan terpisah dengan suhu dingin yang sesuai standar, cokelat dikemas menggunakan alumunium foil agar cokelat terhindar dari segala bentuk kontaminasi
Kemasan Sekunder
Setiap produk mendapat penutup pelindung lagi dengan dibungkus dengan kemasan kertas asli. Dan di sinilah kami mendapatkan produk akhir, siap dikirim ke tempat Anda atau ke toko terdekat.
Cocoa and chocolate are loved by some insects especially the cocoa moth that, attracted by the chocolate smell, will lay eggs the source of that sweet smell and the tiny larvae will find its way to the good chocolate.
Semua langkah produksi diawasi oleh tim ahli kami yang berkualitas untuk memastikan bahwa Anda akan menerima produk yang terbaik.
Cokelat tidak suka panas atau lembab/air. Ini akan mempengaruhi tekstur dan warnanya. Cokelat asli sebagian besar terbuat dari mentega kakao dan lemak ini akan menyerap bau di sekitarnya! Jauhkan dari sabun, deterjen, ikan, dll.
Kakao dan cokelat disukai oleh beberapa serangga terutama ngengat kakao yang tertarik dengan bau cokelat, biasanya akan bertelur di sumber yang berbau manis dan larva kecil akan menemukan jalan menuju cokelat yang enak.

Sertifikasi

Testimonial

Randy Sakki
Indonesian finest!!! Their products are wonderful in every regard. All those friendly smiles, and chocolate, too! Terrific!



Nadya Ava
Chocolate pralines taste so gewd I cri. Selama duduk duduk disini banyak banget orang (and expat) mondarmandir beli praline nya. The cocolate drink is also bomb, even better than the overpriced godiva

Chintya Rusilawati
The best chocolate shop ever!!! Buat yang suka coklat, pasti bakal kalap banget pas masuk ke situ. Pilihan coklatnya banyak banget dan ada testernya. Coklatnya enak ga bikin eneg.
magnifiercross
Instagram
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram